Dampak Before & After dari Adanya Implementasi IT pada Suatu Organisasi
Implementasi IT yang tampak dalam suatu organisasi bisa kita lihat dari penggunaan kertas yang berkurang. Contoh yang seringkali kita alami langsung, yaitu ketika di restoran. Dulu, saat ingin memesan, pelanggan harus melihat dari buku menu yang disediakan. Terkadang, buku menu terbatas hanya 2 buku per meja sehingga jika pelanggan lebih dari 2 akan lama memesan karena harus bergantian melihat buku menu. Semenjak IT diimplementasikan di restoran, pelanggan yang akan melihat menu kini hanya perlu melakukan scan kode QR yang ada di meja. Setelah di scan, maka ponsel pelanggan akan memperlihatkan buku menu digital yang bisa dilihat oleh semua pelanggan.
Contoh lain organisasi yang terdampak oleh IT adalah bank. Dulu, kita harus membawa kartu ATM untuk mengambil uang di mesin ATM. Kini, kita bisa tarik tunai tanpa kartu melalui aplikasi mobile yang disediakan oleh pihak bank. Di dalam aplikasi m-banking sendiri juga memiliki banyak fitur. Kita bisa melihat saldo, melihat riwayat transaksi, melakukan berbagai macam pembayaran, dan lain-lain. Tentunya hal tersebut sangat memudahkan kita karena tidak perlu mengantri di teller, cukup melalui ponsel kita saja.
Kemudahan proses juga kita jumpai saat servis motor. Kita hanya perlu mengunduh aplikasinya lalu bisa mem-booking servis pada hari yang diinginkan. Selain berguna untuk pengantrian servis, aplikasi servis motor ini juga dilengkapi informasi mengenai motor yang kita miliki. Dengan demikian, pelanggan tidak perlu lagi mengantri lama di tempat servis.
Dampak Negatif E-Business di Berbagai Aspek
Mudah terjadi penipuan sehingga konsumen hilang kepercayaan
Dalam E-business, penipuan yang terjadi bisa bermacam-macam, seperti menggunakan identitas orang lain dalam melakukan transaksi, phising, mengirimkan barang yang tidak sesuai kepada konsumen, dan lain-lain.
Pencurian Informasi
Keamanan yang bisa saja diretas sehingga pencurian informasi perusahaan mudah. Hal ini menimbulkan kerugian tak terduga baik bagi perusahaan maupun konsumen. Konsumen tidak lagi memiliki privasi karena ketika konsumen memberikan data untuk mengakses suatu layanan, maka data tersebut rentan bocor.
Menumbuhkan Sifat Konsumtif
Karena mudah diakses oleh pembeli, maka e-business menumbuhkan sifat konsumtif terutama di kalangan muda. Fenomena ini biasanya terjadi ketika “tanggal kembar”, seperti 6.6, 7.7, 8.8, dll. Di tanggal-tanggal tersebut, berbagai macam marketplace mengadakan promo besar-besaran yang membuat calon konsumen tertarik untuk membeli. Akibatnya, banyak kalangan muda yang merasa tertinggal jika belum membeli barang di tanggal tersebut meskipun sebenarnya tidak ada barang yang benar-benar dibutuhkan dalam waktu tersebut.
Penyakit mental terkait belanja online
Compulsive buying disorder adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan perilaku berbelanja berlebihan dan impulsif secara online. Gejala yang terjadi akibat gangguan ini antara lain, kehilangan kontrol, perasaan bersalah dan cemas, serta ketergantungan.
Pengangguran Meningkat
Dalam e-business, penggunaan IT bermanfaat dalam merampingkan sebuah organisasi sehingga peran manusia digantikan oleh IT yang menyebabkan meningkatnya pengangguran.
Harga Pasar Rusak
Persaingan harga sengit di e-commerce membuat harga merusak di pasaran yang tentu saja merugikan pegawai yang bekerja.
Mengapa Hasil Crowdsourcing Bisa Berbeda?
Jika sebuah bisnis melakukan Crowdsourcing tanpa
melakukan riset yang matang, seperti mengidentifikasi tujuan membuat
Crowdsourcing itu di awal, baik dari tujuan pembuatan dan tujuan pasar yang
akan mereka tuju, mereka justru akan mendapat sisi negatif dari Crowdsourcing
tersebut, karena jika dari (C2B) Consumer to Business, mereka mungkin akan
berharap dalam sebuah terobosan baru atau sebuah inovasi baru yang muncul, dari
sebuah keberharapan itu mereka akan berharap tinggi dan jika sebuah bisnis
tidak melakukan riset yang baik dan para consumer tidak mendapat harapan
mereka, itu pasti akan menurunan penjualan bisnis tersebut dan itu pasti akan
merugikan dari sisi ide inovatif dan pengeluaran keuangan bisnis.
Tapi jika sebuah bisnis meriset consumer dengan baik dan dengan evaluasi yang bagus, bisnis itu mungkin akan mendapatkan hasil positif dari Crowdsourcing yaitu membantu mengurangi biaya operasional bisnis mereka, Contohnya saat Burger King ingin buka lagi di Perancis setelah tutup 15 tahun karena sebelumnya mereka tidak mendapatkan keuntungan disana, mereka memberi informasi di sosial media bahwa mereka akan membuka gerainya, tetapi pengerjaan mereka bisa dihitung lama karena membuka bisnis bukan hal yang mudah. Burger king banyak menerima kritikan kalimat yang sangat buruk oleh netizen Perancis di Twitter, tapi bagaimana Burger King menyelesaikan masalah itu? Apakah Burger King memblock mereka? Tentu saja tidak. Saat Burger King menyelesaikan pembangunan gerainya, mereka memotong kalimat kritik yang buruk tersebut dan menempelnya di dinding gerainya tersebut. Saat masuk ke dalam berita, hal tersebut menjadi sangat lucu dan viral. Hal tersebut menaikan angka penjualan semua gerai Burger King di Perancis. Dan bagaimana netizen di Twitter? Mereka malah makin ramai mengkritik Burger King.
Peduli Lindungi dan KPU
Peduli Lindungi merupakan implementasi Government to Citizen (G2C). Aplikasi ini dibuat pemerintah untuk masyarakat dalam upaya pemantauan hal-hal terkait Covid-19, seperti sertifikat vaksin dan scan sebelum masuk ke tempat umum.
Sama seperti Peduli Lindungi, laman KPU juga salah satu implementasi Government to Citizen (G2C). Pemerintah membuat laman tersebut untuk memberikan informasi terkait KPU dan data pemilih kepada masyarakat.
Komentar
Posting Komentar